Jakarta Sejumlah indikator ekonomi dinilai masih menunjukkan ketahanan yang cukup kuat di tengah tekanan global. Ekonom Senior INDEF, Prof. Didik J. Rachbini, menilai derasnya kritik terhadap disiplin fiskal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto perlu dilihat secara lebih proporsional karena perkembangan fiskal terkini justru menunjukkan pergerakan positif.
Saya cermati, kondisi fiskal cukup baik dengan pendapatan dan pengeluaran masih dalam toleransi yang memadai. Terutama soal defisit sampai Mei 2026, terjaga 0,7 persen terhadap PDB. Mudah-mudahan ini terus terjaga sampai kuartal kedua, ucap Didik di Jakarta.
Menurut Didik, kemampuan pemerintah menjaga defisit tetap rendah menjadi sinyal bahwa pengelolaan fiskal masih berada dalam koridor yang aman. Ia juga menilai pemerintah telah merespons desakan publik terkait anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan melakukan penyesuaian.
Didik menyebut anggaran MBG telah diturunkan menjadi Rp268 triliun dan berpotensi kembali menurun seiring komitmen pemerintah untuk memfokuskan pelaksanaan program di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Selain itu, ia menilai defisit fiskal yang terkendali turut didukung oleh kenaikan pendapatan negara, baik dari pajak maupun penerimaan negara bukan pajak.
Pembiayaan fiskal mencapai Rp379,4 triliun, setara 55,1 persen dari target anggaran setahun penuh. Artinya ada penyediaan pendanaan yang cukup untuk mendukung pelaksanaan anggaran di sisa tahun ini, kata Didik.
Ia menjelaskan, pendapatan fiskal tumbuh sekitar 19 persen secara tahunan hingga Mei 2026 dengan nilai mencapai Rp1.185 triliun. Sumber utamanya berasal dari penerimaan pajak yang naik 22 persen secara tahunan, terutama ditopang kenaikan penerimaan pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 41 persen.
Selain itu, pendapatan non-pajak mencatatkan peningkatan 19,9 persen hingga Mei 2026, terutama berasal dari sektor teknologi, informasi dan komunikasi, ungkapnya.
Meski demikian, Didik mengingatkan pemerintah tetap perlu memperbaiki rasio pajak yang masih rendah dibanding sejumlah negara ASEAN. Ia menilai potensi penerimaan dari sektor pertambangan, manufaktur, dan basis penduduk Indonesia yang besar masih dapat dioptimalkan.
Dari sisi pembiayaan luar negeri, ekonom Myrdal Gunarto menilai posisi utang luar negeri Indonesia juga masih tergolong moderat. Pertumbuhan utang luar negeri pada April 2026 tercatat 1,9 persen secara tahunan dengan nilai total 439,8 miliar dollar AS.
Perkembangan utang luar negeri kita memang pertumbuhannya masih pelan, dari 1 persen menjadi 1,9 persen secara tahunan pada April 2026. Ini masih mencerminkan ketergantungan yang relatif rendah dari pemerintah ataupun pelaku bisnis swasta terhadap kebutuhan mereka untuk melakukan utang luar negeri, ujar Myrdal Gunarto.
Sementara itu, penerbitan obligasi global perdana Danantara Investment Management senilai 1,5 miliar dollar AS juga dinilai menjadi sinyal positif kepercayaan investor terhadap Indonesia. Akademisi Universitas Esa Unggul, Iswadi, menyebut tingginya permintaan investor membantah narasi bahwa pasar global mulai meninggalkan Indonesia.
Keberhasilan penerbitan obligasi global Danantara menunjukkan bahwa kepercayaan investor global terhadap Indonesia tetap kuat. Ini sekaligus membantah narasi Sell Indonesia. Yang terjadi justru sebaliknya, dunia sedang menunjukkan sikap Buy Indonesia, kata Iswadi.



















