Jakarta – Pemerintah terus mempercepat agenda hilirisasi nasional dengan mematangkan 13 proyek strategis baru yang diperkirakan memiliki nilai investasi mencapai sekitar Rp239 triliun. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat industri dalam negeri, meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, sekaligus membuka peluang terbentuknya klaster-klaster industri baru di berbagai daerah.
Proses penyusunan prastudi kelayakan (pre-feasibility study) terhadap proyek-proyek tersebut saat ini tengah difinalisasi dan ditargetkan selesai pada akhir Juli 2026. Setelah seluruh dokumen rampung, proyek akan diteruskan untuk proses tindak lanjut investasi sehingga dapat segera memasuki tahap implementasi.
Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Sekretaris Satuan Tugas Hilirisasi dan Ketahanan Energi, Ahmad Erani Yustika, mengatakan bahwa pemerintah sedang memfokuskan penyelesaian dokumen awal sebagai fondasi percepatan investasi.
“Paling yang di kami sekarang finalisasi yang 13 proyek itu, pra-FS-nya. Nah, itu kan harus segera kita rampungkan. (target) Juli,” ujar Ahmad Erani Yustika.
Ia menambahkan, setelah proses prastudi kelayakan selesai, dokumen tersebut akan diserahkan kepada Danantara untuk segera ditindaklanjuti dalam tahap pengembangan proyek dan pembiayaan investasi. Salah satu proyek yang masuk dalam daftar tersebut adalah pembangunan kabel bawah laut yang diharapkan dapat memperkuat konektivitas dan infrastruktur strategis nasional.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia juga telah melaporkan rencana pengembangan 13 proyek hilirisasi tahap kedua kepada Presiden. Menurutnya, proyek-proyek tersebut akan melengkapi pelaksanaan hilirisasi tahap pertama yang sebagian telah memasuki tahap peletakan batu pertama (groundbreaking).
“Kemudian kita tambah lagi ada 13 item hilirisasi yang total investasinya kurang lebih sekitar Rp239 triliun dan akan kita bahas finalisasi,” kata Bahlil Lahadalia.
Pengembangan proyek hilirisasi diyakini akan menjadi motor pertumbuhan ekonomi daerah karena mendorong hadirnya kawasan industri berbasis potensi lokal. Dengan adanya fasilitas pengolahan di dekat sumber bahan baku, rantai pasok nasional menjadi lebih efisien sekaligus menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat.
Selain meningkatkan nilai tambah komoditas, strategi hilirisasi juga diarahkan untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Pemerintah mendorong optimalisasi berbagai sumber energi domestik, termasuk pengembangan etanol dan biodiesel berbasis crude palm oil (CPO), sebagai bagian dari strategi mengurangi ketergantungan terhadap impor energi dan memperkuat kemandirian nasional.
Melalui percepatan penyelesaian 13 proyek tersebut, pemerintah berharap investasi industri dapat semakin merata di berbagai wilayah Indonesia. Kehadiran klaster-klaster industri baru di daerah diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi regional, meningkatkan daya saing sektor manufaktur nasional, serta memperkuat fondasi transformasi ekonomi menuju industri berbasis nilai tambah yang berkelanjutan.

















